Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Selayang Pandang AAMAI

Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) lahir pada tanggal 21 Agustus 1992, dan mendapat persetujuan Dewan asuransi Indonesia pada tanggal 7 Desember 1993, berdasarkan atas Surat Keputusan Dewan Asuransi Indonesia No. 993/DAI/93 tanggal 29 Oktober 1993.

AAMAI bukanlah lembaga pendidikan, tetapi merupakan organisasi pengembangan tenaga-tenaga profesional dalam industri asuransi di Indonesia yang berbentuk asosiasi.

AAMAI sebagai asosiasi profesional berusaha untuk selalu melakukan perubahan sikap dan perilaku para anggotanya secara terus menerus melalui Sistem Keanggotaan Aktif dan Sistem Pengembangan Profesional Berkelanjutan (P2B).

Guna mendukung hal tersebut, maka terdapat sejumlah kriteria dan persyaratan umum bagi keanggotaan AAMAI, yaitu
1. Lulus ujian bidang profesi asuransi
2. Menjadi anggota asosiasi secara aktif
3. Mentaati kode etik profesi
4. Melakukan program P2B
5. Mengutamakan pengabdian & kepentingan umum

Adapun dasar penentuan Keanggotaan AAMAI diatur oleh Anggaran Dasar AAMAI, meliputi:

* Anggota Biasa
Seluruh pemegang gelar profesional asuransi AAAI dan AAI baik sektor Jiwa maupun Kerugian.

* Anggota Luar Biasa
Pemegang gelar-gelar profesional di bidang asuransi lainnya yang diakui oleh asosiasi dan diberikan oleh Dewan Pengurus AAMAI berdasarkan kriteria yang ditetapkan.

* Anggota Kehormatan
Para pendiri Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia.

Pelayanan dan jasa profesional yang diberikan oleh AAMAI ditekankan pada pengembangan sikap profesionalisme seluruh anggotanya, dengan melalui Program Pengembangan Profesional Berkesinambungan (P2B) atau sering juga dikenal dengan Continual Professional Development (CPD).

Beberapa kegiatan yang terus menerus dilakukan AAMAI dalam membangun SDM di bidang perasuransian nasional sehingga mencapai taraf profesional yang credible adalah:

1. Secara bertahap menghilangkan sikap dan perilaku yang hanya berorientasi pada kemampuan sebagai karyawan atau pejabat perusahaan.
2. Menghapus persepsi usang bahwa sertifikat dan atau ijazah adalah sarana ampuh untuk dapat naik pangkat/jabatan. Prestasi profesional harus lebih dihargai.
3. Mengembangkan sikap dan perilaku profesional, yaitu perpaduan sinergik antara kemampuan akademik dan kewirausahaan (enterpreneurship).
4. Proses perubahan sikap dan perilaku profesional itu harus dimulai dari kesadaran seseorang untuk terlebih dahulu menjadi anggota aktif asosiasinya, dan memenuhi semua kewajibannya, sedang pihak asosiasi akan menlindungi, mengembangkan dan memberikan hak-hak anggotanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.